![]() |
| Kondisi saat ini taman yang tidak terurus |
SUMBEREJO – Pembangunan fasilitas publik yang diharapkan menjadi ruang terbuka hijau dan tempat rekreasi warga kini kondisinya memprihatinkan. Taman Desa yang sedianya menjadi kebanggaan, justru berubah wajah menjadi area yang kumuh, tidak terawat, dan terkesan dibiarkan terbengkalai oleh pemerintah desa setempat.
Kondisi ini terungkap setelah Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) melakukan tinjauan langsung ke lokasi dan menemukan sejumlah fakta mengecewakan terkait fasilitas yang dibangun menggunakan dana desa tersebut.
Fasilitas Rusak dan Lingkungan Kumuh
Berdasarkan pantauan di lapangan, kenyamanan yang seharusnya didapatkan warga saat bersantai di taman kini sirna. Sejauh mata memandang, rumput liar dan semak belukar tampak tumbuh subur menutupi keindahan taman. Tanaman hias dan pohon yang dulu ditanam dengan anggaran tidak sedikit, kini meranggas karena absennya perawatan rutin.
Tak hanya soal estetika, aspek keselamatan pengunjung pun terancam. Sejumlah perangkat permainan anak yang tersedia di lokasi terpantau mengalami kerusakan parah. Karat dan bagian bangunan yang keropos membuat fasilitas tersebut kini lebih menyerupai rongsokan daripada tempat bermain.
> "Kondisinya sangat kotor dan tidak nyaman. Warga yang ingin bersantai pun enggan datang. Banyak perangkat bermain yang sudah rusak, pohon dan kembang-kembang di sini sudah saatnya mendapatkan perawatan serius, tapi kenyataannya seperti dibiarkan saja," ujar Sekretaris BPD saat menyampaikan temuannya.
>
Anggaran Terbuang Sia-sia
Temuan ini memicu kritik tajam terkait efektivitas penggunaan anggaran desa. Dana yang dulu dialokasikan untuk pembangunan fisik taman dianggap menjadi sia-sia karena tidak dibarengi dengan inisiatif dan manajemen perawatan yang berkelanjutan dari pemerintah desa.
Absennya rasa tanggung jawab untuk menjaga aset desa membuat investasi publik ini hanya terlihat manis di awal pembangunan, namun pahit di sisi pemeliharaan. Hal ini sangat disayangkan mengingat taman desa seharusnya bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi dan sosial bagi warga sekitar.
Desak Inisiatif Desa
Sekretaris BPD menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal sampah atau tanaman yang layu, melainkan soal komitmen desa dalam mengelola uang rakyat. Ia mendesak pemerintah desa untuk segera mengambil langkah konkret dan tidak menutup mata terhadap kondisi taman yang kian memprihatinkan.
"Tanpa ada inisiatif serius untuk merawat, bangunan fisik semegah apa pun akan hancur dimakan waktu. Kami minta desa segera menganggarkan kembali untuk perawatan atau setidaknya melakukan pembersihan rutin agar aset ini tidak benar-benar mati," pungkasnya.
Kini, bola panas berada di tangan pemerintah desa. Warga menanti apakah taman tersebut akan kembali asri atau tetap dibiarkan menjadi monumen kegagalan pengelolaan aset desa.
![]() |
| Oh Taman Desa Riwayatmu Kinu |



