![]() |
| BANK SAMPAH SEWA EXALATOR UNTUK PEMBERSIHAN DI SAAT SEBELUM IDUL FITRI KEMARIN |
SUMBEREJO, KLATEN – Pengelolaan Bank Sampah Desa Sumberejo kembali menjadi sorotan. Dalam rapat evaluasi yang digelar pada 11 April 2026, sejumlah persoalan mendasar terungkap, mulai dari penumpukan sampah di gudang hingga belum optimalnya pendapatan hasil pengelolaan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi gudang tampak penuh dan kurang tertata. Berbagai jenis sampah, mulai dari plastik, barang bekas, hingga limbah non-rumah tangga terlihat menumpuk tanpa pemilahan maksimal. Hal ini memperkuat temuan dalam forum evaluasi bahwa sistem pengelolaan masih perlu pembenahan serius.
Penjualan Sampah Belum Maksimal
Dalam evaluasi kinerja pemilah, ditemukan bahwa penjualan sampah belum berjalan optimal. Sebagian transaksi bahkan dilakukan tanpa melibatkan bendahara, sehingga berpotensi menimbulkan ketidaktertiban administrasi dan kebocoran pendapatan.
Direktur Bank Sampah menegaskan bahwa pemilah harus meningkatkan kinerja. “Hasil penjualan sampah itu sejatinya kembali ke pemilah. Jadi kalau tidak maksimal, yang dirugikan juga pemilah sendiri,” ujarnya dalam rapat.
Pelanggaran Pengambilan Sampah
Di sisi lain, kinerja petugas pengambil sampah juga mendapat perhatian. Masih ditemukan praktik pengambilan sampah dari luar desa, termasuk dari program MBG Jetis, yang dinilai memperparah kondisi gudang yang sudah overload.
Selain itu, tingkat kehadiran personel dalam rapat juga dinilai rendah. Sebagai tindak lanjut, sekretaris diminta segera menyusun surat teguran bagi personel yang tidak disiplin.
Direktur juga menegaskan larangan keras pengambilan sampah dari luar wilayah. “Kondisi keuangan kita untuk membersihkan sampah saja sudah minus dan masih harus dibantu desa. Jadi mohon ini menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Kerja Sama Diputus, Pelanggaran Ditemukan
Mulai April 2026, kerja sama pengelolaan sampah dari program MBG desa resmi dihentikan. Sementara itu, ditemukan pula adanya pelanggaran dari salah satu pelaku usaha, yakni Toko Gondang Murah, yang kedapatan membuang sampah non-rumah tangga ke gudang tanpa membayar retribusi.
Evaluasi Keuangan: Potensi Belum Tergarap
Dari sisi keuangan, ditemukan ketidaksesuaian antara jumlah peserta dan iuran yang masuk. Oleh karena itu, akan dilakukan pendataan ulang sebagai dasar penertiban administrasi.
Berdasarkan data sementara, total potensi iuran dari seluruh wilayah mencapai Rp3.545.000 per bulan. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya terealisasi akibat lemahnya pencatatan dan penagihan.
Beberapa rincian potensi iuran antara lain:
- Wilayah KUNDEN (141 KK) sebesar Rp705.000
- Gabungan wilayah Kwangen hingga Karangnongko (310 KK) sebesar Rp1.550.000
- Wilayah Bendogantungan dan sekitarnya (98 KK) sebesar Rp490.000
- Padangan lebih dari 60 KK sekitar Rp300.000
Data tersebut akan menjadi acuan bendahara dalam melakukan penertiban keuangan ke depan.
Perlu Pembenahan Sistemik
Melihat berbagai persoalan tersebut, pengelolaan Bank Sampah Sumberejo dinilai membutuhkan pembenahan menyeluruh, baik dari sisi manajemen, kedisiplinan personel, hingga sistem administrasi.
Dengan potensi besar yang dimiliki, Bank Sampah sebenarnya dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus solusi lingkungan bagi desa. Namun tanpa tata kelola yang baik, potensi tersebut justru berisiko menjadi beban.
Pemerintah desa diharapkan turut memperkuat pengawasan dan pendampingan agar pengelolaan Bank Sampah dapat berjalan lebih profesional dan berkelanjutan.



0 Komentar