![]() |
| LATIF SAFRUDDIN Penulis EBOOK 15 Tahun Mengabdi Sebagai BPD Sekretaris BPD Forum/Desa Sumberejo |
Fenomena Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang tidak menghasilkan keuntungan di banyak desa, termasuk di Kecamatan Klaten Selatan, bukan sekadar persoalan teknis usaha. Ini adalah potret kompleks dari persoalan kepemimpinan, budaya ekonomi, manajemen, hingga krisis kolektivitas sosial di desa.
Pernyataan Ketua Paguyuban Kepala Desa Klaten Selatan bahwa “tidak ada SDM yang mampu mengelola BUMDes” justru memantik pertanyaan yang lebih dalam:
Benarkah desa kekurangan SDM? Atau sebenarnya terjadi kegagalan dalam mengorganisasi potensi yang sudah ada?
1. Paradoks SDM Desa: Banyak Orang Pintar, Tapi Tidak Terlibat
Kalau kita jujur, desa tidak kekurangan orang pintar.
Banyak warga desa:
- Sukses jadi pengusaha
- Punya usaha kuliner, dagang, jasa
- Bahkan “kaya” secara ekonomi
Namun ironisnya, mereka tidak terlibat dalam BUMDes.
👉 Ini bukan soal tidak mampu, tapi soal:
- Tidak ada ruang partisipasi
- Tidak ada kepercayaan
- Tidak ada insentif yang jelas
BUMDes sering dikelola oleh “orang yang tersedia”, bukan “orang yang kompeten”.
2. BUMDes Dikelola Seperti Proyek, Bukan Bisnis
Masalah paling mendasar:
BUMDes tidak dijalankan dengan mindset bisnis, tapi mindset proyek.
Ciri-cirinya:
- Dibentuk karena regulasi, bukan kebutuhan pasar
- Fokus pada “mendirikan unit usaha”, bukan “menghasilkan profit”
- Tidak ada studi kelayakan yang serius
- Tidak ada target keuntungan yang jelas
Akhirnya: ➡️ BUMDes hanya jadi “bangunan prasasti” — ada fisiknya, tapi mati aktivitasnya.
3. Lemahnya Leadership dan Lobby Ekonomi
Anda benar ketika menyinggung soal lobi dan koordinasi.
BUMDes butuh:
- Kemampuan membangun jaringan (networking)
- Kerjasama dengan pelaku usaha lokal
- Kemitraan dengan pasar, distributor, bahkan digital platform
Namun yang terjadi:
- Kepala desa dan pengurus sering tidak punya visi bisnis
- Tidak mampu “meyakinkan” warga atau investor lokal
- Tidak ada strategi pemasaran
Padahal kunci bisnis bukan hanya produksi, tapi: 👉 siapa yang membeli?
4. Masyarakat Tidak Dilibatkan Secara Nyata
Ini kritik paling tajam.
Banyak warga:
- Tidak tahu BUMDes itu apa
- Tidak merasa memiliki
- Tidak pernah diajak ikut dalam perencanaan
Akhirnya muncul sikap:
“Itu urusan pemerintah desa, bukan urusan saya.”
Padahal seharusnya: 👉 BUMDes adalah milik bersama, bukan milik perangkat desa
5. Gagalnya Ekonomi Kolektif: Tidak Ada Komitmen Bersama
Anda membuat ilustrasi menarik:
“Kalau tiap desa punya 3.000 warga, dan semua sepakat beli produk BUMDes…”
Secara teori:
- 3.000 orang × Rp10.000/hari = Rp30 juta/hari
- Dalam sebulan bisa ratusan juta
👉 Ini sangat mungkin secara ekonomi.
Namun gagal karena:
- Tidak ada kesepakatan kolektif
- Tidak ada gerakan bersama
- Tidak ada disiplin konsumsi lokal
Ini menunjukkan:
Gotong royong hanya jadi slogan, belum jadi sistem ekonomi.
6. Krisis Kepercayaan (Trust Issue)
Kenapa warga enggan terlibat? Karena:
- Takut BUMDes tidak transparan
- Pernah ada pengalaman buruk (pengelolaan dana desa, dll)
- Tidak yakin uangnya dikelola profesional
Tanpa kepercayaan:
👉 Tidak akan ada partisipasi
👉 Tanpa partisipasi: BUMDes pasti mati
7. Tidak Ada Sistem Insentif yang Menarik
Pengusaha lokal berpikir rasional:
- “Apa untungnya saya terlibat di BUMDes?”
Jika:
- Tidak ada bagi hasil jelas
- Tidak ada perlindungan usaha
- Tidak ada peluang berkembang
Maka wajar mereka memilih: 👉 Fokus ke bisnis pribadi
8. Ego Sektoral dan Kurangnya Kolaborasi
Sering terjadi:
- BUMDes jalan sendiri
- UMKM jalan sendiri
- Karang taruna jalan sendiri
Tidak ada ekosistem ekonomi desa.
Padahal seharusnya: 👉 BUMDes jadi “induk ekonomi desa”
9. Budaya “Asal Jalan” Tanpa Evaluasi
Ini penyakit klasik:
- Program jalan → tidak dievaluasi
- Rugi → dibiarkan
- Tidak ada audit bisnis
Akhirnya: 👉 Kerugian dianggap “biasa”
Kesimpulan Tajam
Masalah BUMDes di Klaten Selatan bukan:
❌ Tidak ada SDM
❌ Tidak ada potensi
Tapi:
✅ Tidak ada sistem yang mampu mengorganisasi potensi
✅ Tidak ada kepemimpinan ekonomi yang kuat
✅ Tidak ada komitmen kolektif masyarakat
Solusi (Jika Serius Ingin Berhasil)
- Libatkan pengusaha lokal sebagai mentor/pengelola
- Bangun sistem saham desa (penyertaan modal warga)
- Wajibkan konsumsi lokal berbasis kesepakatan sosial
- Transparansi total (laporan keuangan terbuka)
- Rekrut manajer profesional, bukan sekadar perangkat desa
- Fokus 1–2 usaha saja, jangan banyak tapi mati semua
- Bangun branding & pemasaran digital
Penutup (Refleksi Kritis)
Pertanyaan Anda sangat dalam:
“Kenapa orang desa yang sukses tidak peduli desanya?”
Jawabannya pahit: 👉 Karena desa belum mampu menjadi “rumah yang menarik” bagi mereka.
Selama:
- Tidak ada sistem profesional
- Tidak ada kepercayaan
- Tidak ada keuntungan jelas
Maka: 👉 Orang pintar akan tetap di luar sistem desa
BUMDes akan hidup bukan karena dana desa,
tapi karena kepercayaan, kepemimpinan, dan komitmen bersama.
Kalau Anda mau, saya bisa bantu:
- Membuat model bisnis BUMDes yang realistis untuk Klaten Selatan
- Atau konsep gerakan “warga beli produk desa” yang benar-benar bisa jalan 👍

0 Komentar