![]() |
| Ayam Jantan saat ini yang ada dikandang ketahanan pangan |
Sumberejo, Klaten Selatan—Program ketahanan pangan Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, terus bergerak. Setelah pelaksanaan tahap pertama menjadi bahan evaluasi, kini program ternak ayam pedaging memasuki siklus kedua dengan jumlah 5.000 bibit ayam yang dipelihara secara intensif di kandang ketahanan pangan desa.
Upaya ini menjadi salah satu langkah konkret pemerintah desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan pengelola lapangan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi desa. Dalam pemeliharaan tahap kedua ini, pengelola tidak hanya menyiapkan bibit, pakan, dan kandang, tetapi juga memperketat pengawasan kesehatan ayam sejak hari pertama masuk kandang.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, hingga usia dua pekan, jumlah kematian ayam tercatat 85 ekor. Meski demikian, pengelola menilai angka tersebut masih menjadi bahan evaluasi penting agar pada siklus-siklus berikutnya tingkat kematian bisa terus ditekan. Langkah-langkah perawatan harian pun dilakukan lebih disiplin, mulai dari kebersihan pakan dan minum, sanitasi kandang, hingga pengaturan sirkulasi udara dan sinar matahari.
Suasana kandang ketahanan pangan Desa Sumberejo tampak sibuk setiap hari. Ratusan bahkan ribuan anak ayam terlihat bergerombol di sekitar tempat pakan dan minum. Di sela aktivitas itu, penjaga kandang rutin memeriksa kondisi ayam satu per satu, memastikan tidak ada gejala lemah, nafsu makan turun, maupun gangguan kesehatan lain yang bisa memicu kematian.
Salah satu penjaga sekaligus pengelola kandang menjelaskan, pemeliharaan pada siklus kedua ini dilakukan dengan pengawasan lebih ketat dibanding sebelumnya. Setiap hari, petugas membersihkan wadah pakan dan minum agar tetap higienis. Selain itu, area kandang juga disemprot secara berkala untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menekan potensi penyakit.
“Setiap hari kami bersihkan tempat makan dan minumnya. Kandang juga kami semprot rutin supaya kebersihannya terjaga. Plastik penutup kandang juga kami buka pada waktu tertentu agar sinar matahari bisa masuk. Itu penting untuk kesehatan ayam, supaya kandang tidak terlalu lembab dan ayam tetap sehat,” ujar penjaga kandang saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, sinar matahari menjadi salah satu faktor penting dalam pemeliharaan ayam, terutama pada masa awal pertumbuhan. Selain membantu mengurangi kelembapan di dalam kandang, paparan cahaya alami juga dinilai baik untuk menjaga kondisi ayam tetap fit. Karena itu, pengelola berupaya menyesuaikan buka-tutup plastik penutup kandang dengan kondisi cuaca agar sirkulasi udara dan suhu kandang tetap terjaga.
Kandang ayam ketahanan pangan Desa Sumberejo sendiri disiapkan dengan sistem pembagian ruang yang memudahkan pengawasan. Tempat minum dan tempat pakan disusun di sejumlah titik agar anak ayam dapat menjangkau kebutuhan pakan dengan mudah. Di sisi lain, kebersihan alas kandang dan area sekitar juga menjadi perhatian utama, mengingat kepadatan populasi ayam cukup tinggi.
Program ternak ayam ini menjadi bagian dari upaya Desa Sumberejo memanfaatkan alokasi ketahanan pangan secara produktif. Di tengah tantangan kebutuhan pangan dan ekonomi masyarakat desa, sektor peternakan dipandang sebagai salah satu pilihan yang realistis karena memiliki siklus usaha yang relatif cepat, kebutuhan pasar yang stabil, dan potensi keuntungan yang dapat diputar kembali untuk pengembangan program.
Bagi Pemerintah Desa Sumberejo, program ini tidak sekadar menumbuhkan ayam hingga panen, melainkan menjadi sarana belajar bersama agar desa memiliki pengalaman nyata dalam mengelola usaha peternakan secara mandiri. Dari tahap pengadaan bibit, penataan kandang, pola pakan, pengobatan, hingga manajemen panen, seluruh proses diharapkan menjadi modal pengetahuan bagi desa.
Sekretaris BPD Desa Sumberejo, Latif Safruddin, saat melakukan pengecekan di lapangan menegaskan bahwa program ketahanan pangan desa harus terus dievaluasi agar semakin kuat dari waktu ke waktu. Menurut dia, siklus kedua ini harus menjadi pelajaran penting untuk memperbaiki kelemahan pada tahap sebelumnya, terutama menyangkut manajemen pemeliharaan dan arah kebijakan usaha ternak desa ke depan.
“Ke depan kami berharap program ketahanan pangan ini benar-benar bisa mandiri. Kalau desa sudah punya pengalaman, punya SDM, dan tahu pola pemeliharaannya, maka harapannya tidak terus bergantung pada kerja sama dengan pihak ketiga. Semua bisa kita kelola sendiri dari awal sampai akhir, mulai dari permodalan, pemeliharaan, sampai panen,” kata Latif.
Ia menilai, kemandirian menjadi kata kunci agar manfaat program ketahanan pangan benar-benar kembali ke desa. Menurutnya, ketika desa sudah mampu mengelola usaha peternakan secara utuh, maka keuntungan yang diperoleh juga akan lebih optimal untuk mendukung kegiatan ekonomi desa, memperkuat kas usaha, dan membuka peluang pengembangan usaha lainnya.
Latif menyebut, pengalaman yang dimiliki desa dari siklus pertama dan kedua harus dijadikan pijakan untuk menata sistem yang lebih baik. Pengelola lapangan, perangkat desa, BPD, dan seluruh pihak terkait perlu duduk bersama menyusun evaluasi menyeluruh, mulai dari tingkat kematian ayam, kualitas bibit, kualitas pakan, jadwal sanitasi, pengaturan suhu kandang, hingga strategi penanganan ketika ayam menunjukkan gejala sakit.
“Kalau semua tahapan bisa kita kuasai, saya kira desa akan jauh lebih siap. Pengalaman yang sudah ada ini jangan berhenti sebagai catatan, tetapi harus menjadi bekal. Desa harus berani belajar dan berproses. Dengan begitu, ketahanan pangan bukan hanya program tahunan, melainkan bisa tumbuh menjadi unit usaha yang benar-benar menghidupi,” lanjutnya.
Menurut Latif, keberhasilan program ketahanan pangan tidak bisa diukur hanya dari jumlah ayam yang dipanen. Lebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana desa memiliki kemampuan manajerial dan teknis untuk mengelola usaha secara berkelanjutan. Jika hal tersebut tercapai, program ketahanan pangan akan memberi dampak ganda, bukan hanya pada aspek pangan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi desa.
Di lapangan, pengelola kandang mengakui bahwa memelihara ribuan ayam bukan pekerjaan ringan. Setiap perubahan cuaca, kelembapan, kualitas pakan, dan kebersihan kandang sangat memengaruhi kondisi ayam. Karena itu, pengawasan harian tidak boleh kendur. Petugas harus memastikan ayam mendapatkan pakan sesuai kebutuhan, air minum tersedia, suhu kandang terjaga, dan tidak ada penumpukan kotoran yang bisa memicu penyakit.
“Kalau ayam sebanyak ini, satu hari saja lengah bisa berpengaruh. Jadi kami harus rajin memantau. Pakan, minum, kebersihan, sampai kondisi kandang harus terus dicek. Kami ingin angka kematian bisa ditekan, sehingga hasil panennya nanti lebih baik,” ujar pengelola.
Ia menambahkan, kandang juga diatur agar tidak terlalu pengap. Pada waktu-waktu tertentu, plastik penutup dibuka supaya cahaya matahari dan udara segar masuk ke dalam kandang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga lingkungan kandang tetap sehat, terutama pada pagi hingga siang hari saat intensitas cahaya cukup baik.
Siklus kedua ternak ayam ini sekaligus menjadi ujian sejauh mana Desa Sumberejo mampu memperbaiki sistem budidaya yang dijalankan. Dengan populasi awal 5.000 ekor, angka kematian 85 ekor pada usia dua minggu menjadi perhatian serius, namun belum menyurutkan semangat pengelola. Justru kondisi itu dijadikan bahan pembelajaran untuk memperkuat pengelolaan di fase-fase berikutnya.
Program ketahanan pangan di desa, lanjut Latif, harus dipahami sebagai investasi jangka panjang. Hasil panen memang penting, tetapi yang lebih penting adalah terbentuknya pola kerja, pengalaman teknis, dan keberanian desa untuk berdiri di atas kemampuan sendiri. Jika pola itu berhasil dibangun, maka ke depan desa tak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga pelaku usaha yang mampu mengelola potensi ekonominya sendiri.
Dengan langkah-langkah perawatan yang dilakukan setiap hari, Pemerintah Desa Sumberejo berharap ribuan ayam dalam siklus kedua ini dapat tumbuh optimal hingga masa panen. Harapan itu sejalan dengan cita-cita menjadikan ketahanan pangan sebagai fondasi penguatan ekonomi desa—bukan sekadar proyek sesaat, melainkan gerakan berkelanjutan menuju desa yang mandiri, produktif, dan berdaya saing.
Bagi Desa Sumberejo, kandang ayam yang kini dipenuhi ribuan bibit itu bukan hanya tempat pemeliharaan ternak. Lebih dari itu, kandang tersebut menjadi simbol proses belajar desa: belajar mengelola usaha, belajar dari kekurangan, dan belajar menata masa depan ketahanan pangan yang diharapkan kelak sepenuhnya lahir dari kemampuan sendiri.




